Friday, 1 August 2014

Kalau Kita Bisa Menjadi yang Teristimewa, Mengapa Memilih Sekadar Istimewa?



Special Note for muslimah.
Di tulis oleh seorang akhawat yang banyak alpha.
yang ingin mendidik tanpa menghardik.
yang ingin berbagi tanpa mencaci.
yang ingin menasihati tanpa menggurui.

A'udzubillahi minasy-syaithonirrojim.
Bismillahirrahmanirrahim.

Ukh, aku tahu...
Bagi seorang akhawat, diaku cantik itu membahagiakan.
Bagi seorang akhawat, selalu ada rasa ingin diperhatikan.
Bagi seorang akhawat, berbagi cerita itu sering tak tertahankan.

Untuk itu, kita senang berfoto ria.
Setelah itu mengamati wajah diri kita, jika jelek, kita minta untuk di hapus segera.
Jika bagus, berasanya 'jangan lupa upload ya!'


Ah, aku memang akhawat biasa.
Tapi, aku punya mimpi, ingin menjadi akhawat yang tidak biasa di mataNya.
Tapi, aku punya mimpi, kelak bisa menjadi bidadari surga.
Tapi, aku punya mimpi, bahwa bidadari surga pun cemburu kepadaku.
Tapi, aku punya mimpi, agar kelak aku dapat memandangNya di surga.
Ah, aku memang hanya akhawat biasa. Tapi, bermimpi itu tak ada salahnya kan?

Kemarin, aku belajar tafsir Qur'an di ma'had, bahas QS. Al-Anfal ayat 48 tentang pengkhianatan setan. Masya Allah, dosen yang satu itu memang luar biasa. Loncat dari satu ayat ke ayat lain. Udah hafal ayatnya, tahu artinya, paham pula tafsirnya. Pokoknya, kalau mendengarkan dia, memandangnya, sungguh berasa melonjak naik iman di dada. Luar biasa, kharismanya. Oke, panjaang lebar beliau menjelaskan pada kami bagaimana pengkhianatan setan. Sampai kemudian, beliau berkata pada kami semua: "Semua manusia, punya setan yang setara dengannya." Maksudnya, akan selalu diadakan setan yang setara kekuatannya dengan keimanan kita untuk menggoda sampai kita tergelincir. Seorang ahli ibadah, akan di goda oleh setan yang kemampuan menggodanya pun sudah luar biasa. "Lantas, apa kita merasa aman?" Begitu beliau bertanya.

Ah, kawan, jangan dipikir akhawat muslimah yang sudah menutup aurat dengan syar'i tak lagi di goda setan. Sungguh, setan itu punya 1001 cara. Bahkan membuat kita memandang indah perbuatan dosa kita juga dia bisa. Duh, ini nih bahayanya. Betapa tidak, kita merasa indah pada sesuatu hal yang sebenarnya itu dosa. Na'udzubillah. Akhawat shaliha, setan tahu membuatmu melepas hijabmu itu susah. Karena setan sudah menakar bahwa engkau sudah mengimani perintahNya yang satu itu. Maka, yang datang bukan lagi setan yang biasa, tapi yang datang adalah setan dengan kemampuan di atas rata-rata. Dengan lembut ia berbisik, "pajanglah fotomu di media sosial. Ini kan hanya berbagi ekspresi dan kisah. Tak ada salahnya.", "Uploadlah, ini kan hanya punggungmu. Rasanya tak mungkin orang jatuh cinta hanya dengan melihatmu dari belakang."...Ah, setan, begitu liciknya dia.Sekali lagi, dia mampu membuat kita memandang indah suatu perbuatan dosa. Na'udzubillah tsumma na'udzubillah.

Akhawat, bukankah indah jika kelak kita bisa bilang kepadanya, suami kita, "aku ingin menjadi yang teristimewa untukmu. Karena aku tahu, hanya kamu yang berhak menikmatinya. Bukan yang lain." Ah, inilah kesetiaan yang terbangun atas dasar iman. Meski tak tahu nama ataupun rupanya, tapi kau sudah mulai menunaikan apa yang menjadi haknya.

Akhawat, muslimah yang sholeha, berhijab syar'i dan rapi itu istimewa di mataNya. Tapi, apakah kita hanya ingin menjadi yang istimewa? Tidak terbersitkah untuk menjadi yang teristimewa di mataNya? Ah, jika Allah sudah cinta...Maka...Apa kau ingin akan di kabulkanNya, segala pertolongan selalu tercurah kepada kita, Lebih jelasnya, coba lihat hadits arba'in nomor 38, ya.


Perhatikanlah bagaimana Allah menggambarkan bidadari surga, "“Maka nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan? Di ranjang-ranjang itu ada bidadari-bidadari yang menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan? Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (ar-Rahman: 55—58)

Indah, ya...

Akhawatifillah, yang keluar dari lisanku bukanlah larangan. Sungguh, tak ada kalimat larangan dalam catatan ini.
Ini hanya sekadar nasihat yang semoga tidak menyakiti, tidak pula menggurui. Karena cinta nasihat itu mengalir adanya. ya, cinta karena Allah.

Ukh, tidak semua hal yang kita inginkan harus kita penuhi. Ada hal-hal yang ketika kita menahan diri darinya justru mengundang kebaikan.
Ingat, ketika kita meninggalkan sesuatu karena sebuah alasan syar'i yang lillah, maka Allah janji, Allah akan ganti itu dengan yang lebih baik.

Adakah yang lebih menepati janji daripada Allah?

Kalimat terakhir berikut, adalah kalimat dari dosen tafsirku:
"Wanita itu mau dilihat dari bagian manapun, terlihat cantik. Dari depan cantik. Dari belakang cantik. Karena setan menghiasinya."

No comments:

Post a Comment