Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Wednesday, 22 April 2015

Upgrade Your Iman

https://ciptabiru.files.wordpress.com/2010/09/iman.jpg
Iman itu ibarat tanaman yang jika dibiarkan ia bisa layu bahkan mati.
Iman adalah harta yang paling berharga, tak terhingga nominalnya.
Iman bukan barang temuan. Bukan datang dengan sendirinya. Tapi ia ada oleh sebab usaha.
Iman. Kita yang harus menanamnya. Lalu menyuburkannya. Memastikan bahwa kian hari, ia kian tumbuh dan berkembang. Bukan seperti pohon bonsai yang kerdil selama-lamanya sampai ia mati.
Jangan pernah merasa sudah cukup beriman. Sudah cukup aman dari neraka yang Allah

Sunday, 22 February 2015

Nasihat Untukmu, Sayang...



Berkali-kali...
Engkau memohon padaku, "nasihati aku kak"
Saat itu aku hanya menjawab ambil air wudhu dan bacalah Al-Qur'an.

Maaf, tak selalu aku menanggapi berbagai keluh kesahmu kepadaku.
Seperti yang pernah kujelaskan, aku ingin kau tidak bergantung padaku.
Sebab, tak selamanya aku bisa disisimu, mendengarkan setiap detail perkataanmu, memberikan nasihat-nasihatku kepadamu.

Permohonan tulisan ini pun engkau yang memintanya padaku. Sungguh, banyak hutang tulisanku padamu.
Mungkin biar kutunaikan semua hutang itu di tulisan ini.

Adikku yang sholiha...
Belajarlah untuk menerima dengan penuh keridhoan atas segala hal yang terjadi pada kita.
Berhenti mengeluh! Dan jika terpaksa harus mengeluh, maka biarkan keluhan itu tercecer di atas sajadahmu.
Beberkan semua padaNya. Menangislah sekehendakmu. Katakan apapun yang ingin engkau katakan kepadaNya.

Coretan Sebelum Tidur



Malam, di pembaringan

kita harus punya ketegasan terhadap diri sendiri. Jangan tegas pada kealpaan orang lain, namun lemah menghadapi kealpaan diri sendiri.

Berani dengan tegas mengatakan TIDAK ketika nafsu mengajak bersantai-santai dan loyo dalam beribadah.

Berani dengan tegas menolak ketika nafsu mengajak "ayolah bermaksiat, sekalii saja."

Berani dengan tegas menghukum kesalahan diri ketika ia mulai lalai dari ketaatan dan melirik kemaksiatan.

Sebab...
Maksiat itu seringkali timbulkan candu. Ingin lagi dan lagi. Terus dan terus.

Wanita dan Kecantikan Lahiriyah



Wanita mana sih yang nggak mau cantik?
Kodratnya, wanita itu ingin sekali terlihat cantik.
Kulit mulus, bercahaya, tanpa jerawat, rambut indah, badan harum semerbak.

Iklan mengajarkan kita wanita hanya akan di pandang jika ia punya wajah cantik. Iklan mendidik kita kita bahwa kecantikan lahiriyah itu adalah segalanya yang harus kita perjuangkan.

Dan hei, tampaknya iklan-iklan itu telah berhasil membentuk mindset kita yang demikian!

Makanya, banyak di antara wanita yang merasa berat ketika mendengar perintah menutup aurat. Menutupi kecantikan yang selama ini wanita perjuangkan.

Padahal....
Sesungguhnya, perintah menutup aurat inilah yang sejatinya memuliakan wanita. Bahwa wanita tidak semata-mata di nilai dari fisiknya saja.

Jangan Sampai



Jangan sampai. Engkau bersinar terang di luar, tapi hitam pekat di rumahmu sendiri.
Jangan sampai. Engkau pionir kebaikan di luar, tapi bukan siapa-siapa di rumahmu sendiri.
Jangan sampai. Engkau bersuara lantang di aksi, tapi bungkam lihat maksiat di rumahmu sendiri.
Jangan sampai. Engkau tersenyum pada umat, tapi bermuram durja di rumahmu sendiri.

Lupakah?
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman;

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu" (QS. At-Tahrim: 6)

Jadikanlah...
Kehadiranmu di rumah sebagai cahaya iman keluarga.
Keberadaanmu, mengubah wajah jahiliyah menjadi wajah takwa.
Kelakuanmu, menjadi cermin keindahan akhlak seorang mukmin.

Friday, 1 August 2014

Catatan Malam - Aku dan Al-Qur'an



Ini bukan puisi. Bukan pula kumpulan kata-kata indah. Ini hanya sederet kisah yang aku alami beberapa hari yang lalu.

Kutulis di malam hari. Saat tubuh telah kurebah di atas tempat tidur. Tak kutunggu esok tuk menuliskan ini. Sebab bisa jadi, tak kembali ruh ke jasad ini saat pagi menjelang.

Kau tahu?
Aku baru saja ditampar. Bukan dengan tangan. Tapi dengan lisan seseorang.

Kau tahu?
Aku bahagia sekali mendapat tamparan itu. Sebab, sungguh, baru kali ini, terulang lagi, ada orang yang menasihatiku. Aku rindu nasihat. Aku rindu 'tamparan'. Aku rindu 'pecutan'. Sungguh, buatku, orang yang mencintaiku adalah dia yang mau meluruskanku di kala aku salah. Bukan dia uang membenarkan kesalahan-kesalahanku. Bukan dia yang setiap saat memujiku, meninggikanku, sesuatu yang seringkali buat ku lupa diri bahwa aku hanya seorang akhawat biasa. Dia yang berani mengatakan celaku, menasihatiku, dia yang sadarkan aku bahwa aku punya banyak kekurangan, dia yang menyemangatiku untuk berubah.

Suatu ketika..
Saat aku sedang beristirahat sejenak untuk santap siang setelah lelah melakukan perjalanan dari jakarta menuju stasiun bogor.

Hpku bergetar tanda ada panggilan masuk.
Dari seberang sana terlontarlah sebuah tanya.

"Assalamu'alaikum mba suryani. Apa kabar?"

"Wa'alaikumussalam mba. Alhamdulillah, baik mba."

"Bagaimana tilawahnya? Sudah kelar 1 juz?"

Hadiahkan Senyuman Untuknya



Waktu saya kelas satu SMK, ada satu adegan yang saya inget banget di kepala.
Ada seraut wajah yang tak pernah saya lupa.

Iya, dulu saya males dsl. Bahkan sampai astor menelpon saya pun, tak saya angkat.
Saya selalu datang terlambat. Sengaja. Saya menghindari satu agenda, membaca Al-Qur'an.
Buat saya, dulu, baca Al-Qur'an itu berat banget. Saya bisa. Tapi karena jarang baca, ya gerogi banget pas ngebacanya.
Makanya, paling nggak, saya hadir saat pembacaan Al-Qur'an sudah selesai.

Tahu nggak?
Di puncak kekesalan astor saya, ketika telepon darinya tak saya angkat.
Maka ketika saya datang, saya di sambut oleh tatapan sinis.

Inilah Saatnya Saya Harus Malu



Oke, inilah saatnya saya harus malu sama umur.
Begitu banyak orang yang lebih muda dari saya, tapi dia sudah mampu berkarya.

Oke, inilah saatnya saya harus malu sama fisik.
Begitu banyak orang yang fisiknya tak terbilang sempurna, tapi dia tetap bisa berkarya.

Oke, inilah saatnya saya harus malu sama Allah.
Begitu banyak yang Allah udah kasih ke saya, tapi belum ada satu karyapun yang bisa saya persembahkan untukNya.

Oke, inilah saatnya saya harus malu sama Rasulullah.

Sunday, 25 August 2013

Ketika Hidup Harus Memilih

Hidup ini pilihan. Mungkin ini emang kata-kata basi, tapi sampai kapanpun kata-kata ini selalu benar adanya.
Dan setelah sebuah kelulusan kita genggam, ada begitu banyak tawaran kehidupan yang harus kita pilih..
Kerja dulu atau Kuliah, atau kerja sambil kuliah. Dan ketika kita sudah memutuskan hal ini pun, kita akan di hadapkan pada pilihan-pilihan lain. Yakni : Kerja dimana ? Kuliah dimana ?

Yang beda bagi orang beriman adalah ia MELIBATKAN ALLAH dalam setiap pengambilan keputusannya.
Ya, ini memang tentang masa depannya. Ya, ini memang tentang hidupnya. Tapi ia selalu ingat bahwa Allah-lah yang jauh lebih tahu tentang masa depan dan Allah-lah pemegang saham dalam kehidupannya..

Inilah sebabnya, aku katakan : istikhoroh, dek.

Bacalah dan resapi doa ini, betapa doa ini adalah bentuk kepercayaan seorang hamba kepada Tuhannya sebagai penentu dan penguasa dalam hidupnya.

Saturday, 24 August 2013

jujur pada diri sendiri

malam ini, saat membuka dokumen" di laptop..saya menemukan tulisan saya sendiri tentang kelebihan dan kekurangan diri. Saya membacanya dengan teliti, sungguh saya tdk ingat pernah menuliskannya.. Tulisan yang begitu menusuk hati saya. Bukan karena indah tulisannya, tapi karena tulisan itu benar-benar tulisan yang apa adanya tentang saya. Tulisan yg sungguh tiada suatu pun yg di tutupi. Murni, ingin jujur pada diri sendiri. Istilah kasarnya, "NGACA!"

Ah, malu skali. Dan kau tahu? Aku jadi teringat pada satu masa dimana

Friday, 18 January 2013

Allah Takkan Lupa

kebaikan yang lillahi ta'ala nilainya kekal..
sekecil apapun itu, seremeh apapun itu, jika niatnya karena Allah semata, Insya Allah, Allah tak akan pernah melupakannya. Sekalipun kita sudah lupa bahwa kita pernah melakukan kebaikan itu, sungguh Allah akan selalu mengingatnya.

Kisah nyata dari seorang Ibu yang menderita penyakit keras, seusai operasi sang ibu berucap hamdalah kemudian menangis bercucuran airmata. Dokter pun heran dan bertanya, "di saat seharusnya Ibu bahagia, kenapa Ibu malah menangis ?", "saya sedih dokter, saya tidak mampu melunasi sisa pembayaran operasi sejumlah 120 juta itu. Dulu, uang sejumlah itu bisa saya dapati, tapi sekarang, seluruh kekayaan saya sudah habis untuk pengobatan selama ini". Dengan senyum, dokter itu menjawab, "Ibu tidak perlu khawatir, uang sisa pembayaran operasi itu sudah terlunasi dengan segelas susu segar."
Ibu bingung. Ia mengernyitkan dahinya. Benar-benar tidak mengerti. Susu apa ? dan bagaimana mungkin segelas susu segar setara denga uang 120juta ?

Percayakan saja padaNya


"Jika mau menitipkan sesuatu, titipkan pada Allah" Begitu kata bapak sebelum berkisah.

Waktu itu, bapak pergi ke Pasar untuk membeli buah-buahan. Ada pepaya, pisang, dll. Buah yang pertama bapak beli adalah pepaya. Saat ingin membeli pisang, bapak meninggalkan pepaya itu di dekat sepedanya. Bapak membaca ayat kursi 2x sambil berniat, "ya Allah, saya titipkan pepaya-pepaya ini kepadaMu". Sejurus kemudian, bapak pergi ke tempat penjual pisang setelah selesai memilah dan memilih, bapak kembali ke tempat beliau meletakkan pepayanya. Tidak ada. Hilang. Bapak hanya bergumam dalam hati, "oh ya sudah, mungkin memang bukan rejeki saya". Lalu, bapak pergi lagi untuk membeli yang lain. sekembalinya ke tempat menaruh sepeda -tempat menaruh pepaya juga-, ternyata pepaya itu ada lagi. hehe. nggak jadi hilang.

Entahlah, gak usah dipikirin gimana ceritanya bisa jadi begitu..

Intinya sih, ya itu.. percayakan saja padaNya.

Kawan, apa yang Allah tetapkan untuk tidak kita miliki, maka tidak akan kita miliki. sekalipun kita punya uang yang cukup untuk mendapatinya, pasti ada saja perkara yang menghalangi kita untuk memilikinya. Pun ketika kita sudah memilikinya, kita akan di buat untuk kehilangannya. sekuat apapun kita menjaganya.

Wednesday, 9 January 2013

SI PENSIL DAN SI PENGHAPUS

 
 
Pensil: “Maafkan aku Penghapus…”

Penghapus: “Maafkan aku? Untuk apa Pensil? Kamu tidak melakukan kesalahan apapun kepadaku?”

Pensil: “Aku minta maaf karena aku telah membuatmu terluka. Setiap kali aku melakukan kesalahan, kamu selalu berada di sana untuk menghapusnya. Namun setiap kali kamu membuat kesalahanku lenyap, kamu kehilangan sebagian dari dirimu. Kamu akan menjadi semakin kecil dan kecil setiap saat…”

Penghapus: “Hal itu memang benar… Namun aku sama sekali tidak merasa keberatan. Kau lihat, aku memang tercipta untuk melakukan hal itu. Diriku tercipta untuk selalu membantumu setiap saat kau melakukan kesalahan. Walaupun suatu hari, aku tahu bahwa aku akan pergi dan kau akan mengganti diriku dengan yang baru. Aku sungguh bahagia dengan peranku. Jadi tolonglah, kau tak perlu khawatir. Aku tidak suka melihat dirimu bersedih…”

Ibaratnya adalah… Si Penghapus adalah Orang Tua kita… Si Pensil adalah diri kita sendiri… Orang tua akan selalu ada untuk anak-anaknya untuk memperbaiki kesalahan anak-anaknya… Namun, terkadang, seiring berjalannya waktu… Orang tua akan terluka dan akan menjadi semakin ‘kecil’… (Bertambah tua dan akhirnya meninggal).

Hanya Karena Nila Setitik, Rusak Susu Sebelanga

 
 
merasa tidak ? kita seringkali merusak kehidupan kita sendiri.
merusak 24 jam yang kita miliki hanya karena beberapa menit yang tak kita sukai.
atau setidaknya mungkin kita pernah menganggap, "hari ini apes bgt" hanya karena satu scene kejadian yang kita alami, -melupakan scene kehidupan kita yang lain-.

ah, bingung ya dengan maksud saya ?

hmm, Saya lebih suka cerita untuk membuat orang lain mengerti maksud saya. gapapa kan ?

Jadi begini..

Pagi itu, Mas Nyoto pergi ngantor. di tengah jalan, bannya pecah! "Siaaal!" katanya.
*Doa tuh. Di cateet sama malaikat, mungkin di aamiin-in juga.
kemudian ia menuntun motornya yang kurang lebih 500 meter. "Ah, telat deh nih!"
Grutunya. *Doa lagi tuh. Di cateet sama malaikat, mungkin di aamiin-in juga.
Sampai di tukang tambel ban, pasang muka bete, karena dah capek dorong-dorong motor. *Kehilangan kesempatan sedekah, padahal senyum itu bagian sedekah.

Wednesday, 2 January 2013

Dengan alasan apalagi saya boleh mengeluh ?

Dengan alasan apalagi saya boleh mengeluh ?
Rasa-rasanya, bener-bener gak tahu malu sama Allah kalo hari gini masih aja jadi tukang ngeluh..

Sore tadi, sepulang PKL..
saya naik angkot 31, karena angkot 32 penuh.
saya duduk di kursi yang 6 (kan ada 4 ada 6, ngerti?)
Tepat di depan saya ada seorang ibu..
Baru saja saya duduk, tiba-tiba saya di kejutkan oleh pemandangan yang ada di hadapan saya. Ibu itu, Ibu itu mendadak kejang pada bagian kiri badannya. tangannya kanannya semaksimal mungkin menghentikan tangan kirinya yang kejang dgn cara memeganginya. setelah itu ia sedikit demi sedikit berusaha menggeser kaki kirinya dgn tangan kanan. mulutnya meringis kesakitan. sepertinya sakiiit sekali. saya bungkam, masih terlalu shock dengan apa yang saya lihat.

ketika sudah agak tenang, tak lama berselang naik satu penumpang yang duduk di samping ibu itu, "Bruk"..menyenggol agak keras tubuh bagian kiri ibu itu. lagi lagi adegan itu kembali terulang. Ibu itu meringis kesakitan. saya tidak tahan, lantas keluarlah pertanyaan dari mulut saya : "kenapa buu?"

Di sinilah si Ibu mulai berkisah.

"Sakiiit." itu awal kalimatnya..

Wednesday, 7 March 2012

Tantangan Kehidupan


teruntuk saudariku..
semoga Allah menggerakkanmu untuk membaca untaian kalimat ini.

bismillahirrahmanirrahim.
sejenak saat ku mendengar kisahmu yang dramatis, aku cukup sedih. tapi seketika aku teringat bahwa aku sudah pernah melewati masalah itu. bersyukurlah saudariku, Allah tengah mengajarimu arti kata IKHLAS yang tak kenal kata TAPI.
bersyukurlah saudariku, Allah tengah mengajarimu arti kata SABAR yang tak kenal kata BATAS..

ukhtifillah..
kamu memanglah aktor dalam skenario kehidupanmu. tapi Allah adalah sutradara yang mengatur alur ceritanya..
saudariku, sadarilah bahwa manusia tercipta dengan segala keterbatasannya. termasuk dalam memandang suatu persoalan. seringkali kita mengatakan, "aku suka ini, aku yakin ini baik untukku" dan Allah menepisnya dengan ayat :

Pendewasaan Diri



bahagia atau menderita semua tergantung pada pola pikir kita memandang kehidupan ini. ya setidaknya itu yang mampu aku simpulkan dari pengalamanku. saat membaca buku diary masa SMP aku menyadari adanya perbedaan hidup antara aku yang dulu dengan aku yang sekarang. aku merasa hidupku jauh lebih bahagia. setelah ku cari akar penyebabnya, kudapati jawaban bahwa ini karena berubahnya pola pikirku. mungkin terlihat sepele, tapi memang demikianlah kenyataannya : apa yang kau pikirkan tentang hidup ini, maka itulah yang pasti akan kau rasakan.

menjadi tua itu adalah suatu kepastian, tapi menjadi dewasa itu adalah pilihan. banyak orang yang umurnya sudah berkepala dua, tiga, empat, atau bahkan lima tapi tak juga dewasa pikirannya. tua bukan berarti dewasa, dewasa juga bukan berarti sok tua. mumpung

Wednesday, 11 January 2012

Yakinlah..

"di balik gumpalan awan indah nan mempesona itu aku meyakini bahwa yang Menciptakan itu pasti jauh lebih indah dan mempesona. di balik gagahnya gunung itu aku meyakini bahwa penciptanya pasti jauh lebih gagah..
memandang alam ini meyakinkanku bahwa penciptanya ialah luar biasa menakjubkan indah dan teduh pesonaNya.."

Dia pemilik cinta LUAR BIASA nan mempesona !

Peringatan : Manusia Yang Terlupakan di Hari Kiamat



"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?"  Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan"
(QS Thaha : 124-126)

bismillahirrahmanirrahim
dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang.

tidakkah gemetar kita baca ayatNya yang satu ini ?

tentang waktu



ya Allah ajari aku menghargai waktu.
ya Allah ajari aku menghargai tiap detak jantungku.
ya Allah ajari aku menghargai tiap hembusan napasku.
ya Allah ajari aku menghargai hidupku.
detik waktu terus berlalu. menyisakan kecewa, meninggalkan kenangan, menjadi sejarah kehidupan yang terukir dalam buku amalku. ya aku kecewa, kecewa pada diri yang seakan lupa bahwa tiap detik yang kupunya adalah pinjaman dari Tuhanku. suatu hari nanti, ku gunakan untuk apa waktu ini harus kupertanggungjawabkan di hadapanNya.

denting jam itu, menandakan bahwa sisa waktu yang kumiliki semakin berkurang. namun aku ? aku masih saja begini. aku selalu kalah di hantam waktu. 17,5 tahun aku telah merasakan hidup di dunia ini. 6.370 hari telah jalani hidupku. 152.880 jam sudah