Ini bukan puisi. Bukan pula kumpulan kata-kata indah. Ini hanya sederet kisah yang aku alami beberapa hari yang lalu.
Kutulis
di malam hari. Saat tubuh telah kurebah di atas tempat tidur. Tak
kutunggu esok tuk menuliskan ini. Sebab bisa jadi, tak kembali ruh ke
jasad ini saat pagi menjelang.
Kau tahu?
Aku baru saja ditampar. Bukan dengan tangan. Tapi dengan lisan seseorang.
Kau tahu?
Aku
bahagia sekali mendapat tamparan itu. Sebab, sungguh, baru kali ini,
terulang lagi, ada orang yang menasihatiku. Aku rindu nasihat. Aku rindu
'tamparan'. Aku rindu 'pecutan'. Sungguh, buatku, orang yang
mencintaiku adalah dia yang mau meluruskanku di kala aku salah. Bukan
dia uang membenarkan kesalahan-kesalahanku. Bukan dia yang setiap saat
memujiku, meninggikanku, sesuatu yang seringkali buat ku lupa diri bahwa
aku hanya seorang akhawat biasa. Dia yang berani mengatakan celaku,
menasihatiku, dia yang sadarkan aku bahwa aku punya banyak kekurangan,
dia yang menyemangatiku untuk berubah.
Suatu ketika..
Saat aku sedang beristirahat sejenak untuk santap siang setelah lelah melakukan perjalanan dari jakarta menuju stasiun bogor.
Hpku bergetar tanda ada panggilan masuk.
Dari seberang sana terlontarlah sebuah tanya.
"Assalamu'alaikum mba suryani. Apa kabar?"
"Wa'alaikumussalam mba. Alhamdulillah, baik mba."
"Bagaimana tilawahnya? Sudah kelar 1 juz?"