Showing posts with label celoteh hati. Show all posts
Showing posts with label celoteh hati. Show all posts

Sunday, 18 October 2015

Pak, Terimakasih

Pak, aku masih ingat waktu pertama kali berjumpa denganmu.
Masih terekam jelas dalam memoriku saat pertama kali Allah mempertemukanku denganmu.
Ahad, 7 September 2014, di rumah itu, ba'da zuhur, kau menungguku; wanita pilihan anakmu.
Ah, sejak pertama kita saling bicara... Kau memang seringkali membahas tentang kematian, tentang nasib kita di akhirat kelak setelah kematian.

Pak, aku masih ingat kata-katamu:
kau bilang, "Saya sudah pesan pada Ari. Cari

Sunday, 22 February 2015

Catatan Penting untukku

 

#Berjilbablah...

#Tutuplah auratmu.

#Jagalah kehormatan dirimu.

#Bicaralah tapi jangan mendayu-dayu.

#Hindari minyak wangi yang menggoda lawan jenismu.

#Janganlah mubazirkan perasaanmu

#Jangan bermanja-manja pada dia yang bukan siapa-siapamu

#Silakan berkomunikasi jika ada keperluan, tapi hindarilah itu curhat-curhatan

#Sadarilah rapuhnya hatimu ketika cinta menyentuh kelembutan jiwamu

#Belajarlah dan banyak-banyak membaca buku

#Kejarlah cita-citamu tapi jangan pernah lupakan akhiratmu

Secarik Kertas Berjudul Masa Depan



Waktu lagi benahin barang-barang pribadi...
seperti biasa, saya pasti akan menemukan tulisan-tulisan ajaib.
Kenapa ajaib? Karena saya nggak inget pernah menuliskannya, eh tau-taunya ada.
Itu kebiasaan saya, curhat di kertas, taro sembarangan. Curhat di laptop simpen sembarangan.
Makanya, nggak heran kalo kemudian di tembok rumah saya ada coretan 4 angka yang sangat saya kenal: 2016.
Coretan yang bapak buat (mungkin) setelah membaca curhatan saya di kertas tentang 2016.

Kali ini penemuan saya adalah secarik kertas berjudul skema masa depan.

Saya membacanya kata demi kata. Sedih sesaat lalu tersenyum.
Ternyata... masa depan yang dulu hanya tulisan sudah menjadi kenyataan.
Alhamdulillah, meski ada beberapa rencana yang belum diwujudkan. In syaa Allah segera.

Tulisan itu aku tulis waktu kelas 3...

Perkenalkan, Profesi Saya Adalah ...

 
Guru TK itu...
Sesuatu! :D

Kadang, saya lelah harus menerangkan pada mereka yang bertanya:
Kenapa? Kenapa dari STM malah jadi guru TK?
Sering saya hanya jawab dengan senyum. Iya, cuma senyum.

Tapi kadang, saking banyak yang bertanya-tanya...
Saya jadi merenung sendiri.
Iya juga ya? Sekolah STM lama-lama, sampe 4 tahun, udah langsung dapet kerja, eh malah milih resign dan jadi guru TK?

Yang jelas...
Sejak awal, dari dulu, saya nggak pernah berpikir buat kerja kantoran.
Saya nggak pernah ngebayangin bahwa ijazah saya akan saya tukar untuk sebuah pekerjaan bonafit dengan gaji sekian juta.
Sama sekali nggak ada minat ke arah sana.

Friday, 1 August 2014

Titip Seberkas Rindu untuknya



Ketika mata tak lagi saling menatap
Ketika tangan tak lagi saling menggenggam
Ketika tubuh tak lagi saling menyentuh
Ketika telinga tak lagi saling mendengar
Ketika bahu tak lagi jadi tempat bersandar
Ketika kaki tak lagi melangkah bersama
Ketika pertemuan itu tak lagi ada
Ketika segala kisah kini sebatas kenangan masa lalu
Ketika tak ada lagi kisah-kisah yang baru
Ketika kita tak lagi bersama

Biarkan untaian doa yang mengganti hadirku disana

Tulisan Ini Spesial Untukmu, Sahabatku




Di suatu waktu, aku pernah bertanya pada seseorang, "Dek, belakangan ini kamu banyak diam. Ada apa? Apa ruhiyahmu sedang menurun?"
Ia yang biasanya terlihat ceria dan penuh semangat, belakangan lunglai seakan tak punya gairah. Lama aku memperhatikannya, hingga akhirnya aku menanyakan hal itu kepadanya. Tapi jawaban dia, rupanya menghujam sampai ke palung jiwaku, meski itu terjadi 2 - 3 tahun yang lalu, tapi lintasan adegan juga kata-katanya terekam jelas dalam memori otakku. Dia bilang, "Ka, kita nggak bisa menilai ruhiyah seseorang........." Jleb!

Ohya, aku sok tahu. Mungkin, dia yang pernah berkata ini padaku akan membaca tulisan ini juga. Tak apa, aku tak malu belajar dari seorang adik, bahkan belajar dari seorang anak TK sekalipun. Buatku, kita bisa dapati ilmu, hikmah, pelajaran

Monday, 11 February 2013

1st Letter for you : Rilla Gusela S.

Adikku..
Ingat ini..
jangan engkau hanya sibuk dan berjibaku dengan perasaanmu sendiri..
cukuplah engkau terima keputusan ini dengan lapang dada..
tersenyumlah padaNya dan katakan : 
"terimakasih ya Allah telah mempercayaiku untuk mengemban amanah ini, dan hari ini aku berjanji akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mengecewakanMu."

jangan sibuk bertanya, "kenapa harus aku ?"
jangan sibuk menolak, sedang kenyataan telah jelas di depan mata.
ini bukan lagi masanya menangis diri sendiri..
karena puluhan bahkan seratus lebih akhwat kini ada di pundakmu..

Tuesday, 5 February 2013

SERIUS!



 
 Aku mau serius!
Sudah cukup 18 tahun ini ku gunakan untuk main-main saja.
Aku mau serius!
Serius menjalani kehidupanku..
Tanggungjawab sekolahku..
Tanggungjawab rumahku..
Tanggungjawab pekerjaanku..
Tanggungjawab dakwahku..
Tanggungjawab sosialku..

Aku harus bisa menjadi orang yang bertanggungjawab!

Aku harus bisaaa!!

Argh!

Aku Mencintaimu, Sahabat

Di saat kau tak ada disini bersamaku..
percayalah sahabat, disini aku menjaga pikiranku untuk tidak berburuk sangka padamu..
Di saat kau tak datang untuk berjuang bersamaku..
percayalah sahabat, bahwa doaku ada disisimu, ia datang tanpa kau undang..
Meski terkadang sms tak berbalas, aku akan tetap berhusnuzhon padamu sahabat.
"ya mungkin kau tak punya pulsa"
"ya mungkin kau sedang sibuk dan tak sempat membalas smsku"
sebisa mungkin, aku menepis segala lintasan buruk tentangmu..
aku bukan takut kehilanganmu.

Friday, 23 November 2012

Ma, Pak

 
 
Ma..
Pak..
 
aku ingin katakan cinta.
dari lisanku, aku sering mengatakan itu semua.
 
Namun aku sadar..
bahwa cinta yang kumiliki untukmu tak sebesar cintamu untukku.
cintamu nyata. wujud dalam setiap lakumu.
sedang aku ? seringkali egois dengan kehidupanku.
 
Ma..
terimakasih.
 
mama mengajarkan aku banyak hal.
mama mengajarkan aku dengan hikmah.
aku sering melihatmu membantu orang lain.
bahkan engkau pernah menjual emasmu untuk membantu orang lain.
aku melihat binar kebaikan dalam matamu.
dan engkau selalu bilang padaku, "kalau kita suka bantu orang lain, nanti jika kita dalam kesulitan, Allah sendiri yang akan bantu kita."
kata-katamu luar biasa, ma. engkau tak hanya bicara, tapi engkau juga membuktikannya.
Dan engkau juga mengajarkan aku arti seorang tetangga..
engkau menunjukkan padaku, bagaimana seharusnya bersikap pada tetangga.
aku melihatmu sangat bahagia ketika tetanggamu bahagia.
bahkan aku tahu hatimu sangat sedih ketika melihat tetanggamu menderita.
hatimu lembut sekali, ma. tak ada sedikit pun dengki yang ku lihat.
Engkau yang selalu menjenguk tetanggamu yang sakit.
Engkau yang tak pernah absen untuk menghadiri yasinan meninggalnya tetanggamu.
Engkau mencontohkan itu semua.
 

Wednesday, 5 September 2012

sahabat

sahabat, ya aku ingin menyebutmu sebagai sahabat..
sahabat, aku merindukanmu dan aku tak mampu menafikan rasa itu.
sahabat, aku tak tahu apakah engkau disana merindukanku juga.
sahabat, engkau pernah singgah dalam hidupku, engkau pernah turut mewarnai karakterku, engkau pernah membangkitkanku saat aku terpuruk, dan kau juga pernah membuatku merasa terpuruk saat aku ingin bangkit. sahabat, engkau membuat aku mengerti siapa aku. sahabat, aku merindukanmu, dalam doa rinduku, aku sebut namamu. aku hanya bisa berharap bahwa Allah senantiasa menjagaMu..

sahabat, aku sadar, mungkin di matamu, aku bukanlah sahabatmu. aku hanya seorang teman yang selalu mencampuri urusanmu, merusak bahagiamu hanya untuk kepentinganku. aku yang egois dan tak pernah memikirkan perasaanmu. aku yang selalu merasa paling benar. aku yang tak pernah melihat kesalahanku. aku mawar yang tak pernah sadar bahwa duriku telah melukai banyak orang yang ingin memetikku. bagaimanapun itu, dalam hatiku, aku tetap ingin menyebutmu sebagai sahabatku.